Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Soegija adalah film drama epik sejarah dari Indonesia yang disutradarai oleh sutradara senior Indonesia Garin Nugroho, dibintangi oleh budayawan Nirwan Dewanto yang memerankan tokoh pahlawan nasional Albertus Soegijapranata. Film yang dibintangi aktor-aktor dari beragam latar belakang budaya ini akan diluncurkan di Indonesia pada tanggal 7 Juni 2012 yang lalu. Dengan anggaran sekitar Rp 12 Miliar, film ini menjadi film termahal yang disutradarai Garin Nugroho.
Film ini diproduksi dengan format film perjuangan yang mengambil cerita dari catatan harian tokoh Pahlawan Nasional Mgr. Soegijapranata, SJ dengan mengambil latar belakang Perang Kemerdekaan Indonesia dan pendirian Republik Indonesia Serikat pada periode tahun 1940 – 1949. Film ini disutradarai oleh sutradara kawakan Garin Nugroho dengan mengambil latar daerah Yogyakarta dan Semarang. Film ini juga menampilkan tokoh-tokoh nasional Indonesia lain, seperti Soekarno, Fatmawati, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Sri Paku Alam VIII, Jenderal Soedirman, Soeharto, dll. Untuk bisa menggambarkan pengalaman Soegija, film ini banyak menampilkan tokoh-tokoh nyata tapi difiksikan baik dari Indonesia, Jepang, Belanda, sipil maupun militer dalam peristiwa-peristiwa keseharian yang direkonstruksi dengan cukup detil.
SINOPSIS
Dengan mengangkat aspek kemanusiaan yang universal ketimbang menekankan aspek agama, film ini berkisah tentang uskup pribumi pertama di Hindia Belanda (Indonesia sekarang), Monsinyur Albertus Soegijapranata SJ, dari sejak ditahbiskan hingga berakhirnya perang kemerdekaan Indonesia (1940 – 1949). Satu dasawarsa penuh gejolak ini ditandai dengan akhir penjajahan Belanda, masuk dan dimulainya masa pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan RI, dan kembalinya Belanda yang ingin mengambil kembali Indonesia sehingga memulai perang kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa tersebut dituangkan Soegija dalam renungan-renungan catatan hariannya, dan juga peran sertanya dalam meringankan beban penderitaan rakyat di tengah kekacauan perang. Dia mencoba berperan di semua tingkat, baik politik lokal, nasional dan internasional. Atas peran sertanya, Presiden Soekarno memberikan penghargaan dengan gelar pahlawan nasional.
PRO DAN KONTRA
Beberapa kelompok ada yang menganggap Film Soegija ini adalah salah satu sarana Kristenisasi. Tapi banyak juga pihak yang mendukung pemutaran Film ini. Salah satunya Bapak Sultan Hamengku Buwono X. Dikutip dari mediaindonesia.com beliau mendukung pemutaran Film ini karena menganggap film ini sarat akan integritas kepemimpinan. Selain itu film ini
memperlihatkan umat Katolik yang bersatu dan berjuang bersama tokoh lain
dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Pada waktu itu seluruh elemen bangsa bersatu, dan bahu-membahu
memperjuangkan kemerdekaan. Semua bersatu tanpa memandang agama dan
status sosial,” tegasnya.
Sensitivitas keagamaan begitu tinggi di Indonesia. Bahkan film
nasionalisme seperti “Soegija” saja diisukan sebagai Kristenisasi.
Inilah bukti masih ada beberapa kelompok masyarakat yang harus lebih
banyak belajar dan menggali kebersamaan dan toleransi yang terkandung
dalam Pancasila.
Berikut sedikit screen shoot dari Film Soegija!!!
Jadi kepengen nonton filmnya!!! Rekan's ada yang Punya filmnya????
Salam!!!!
Bang Admin...




dalam perjalanan menuju tambolaka..
BalasHapustgl 5 bru filmnya nyampe...
Kalau bisa ya bro copy trus kirimkan ke waingapu!!!
HapusBiar OMK Kambajawa juga bisa nonton bareng!!!!
o.. aman bro..
Hapussebelum Natal, filmnya sudah bisa di tonton..
Hahahahahaha...
HapusAsyk lah...
Ditunggu e bro!!!!!
ok bro..
Hapusmantap....maju terus OMK kambajawa, Tuhan selalu menyertaimu
BalasHapusbravo OMK kambajawa
BalasHapus